+62 8527 0717 667 Call for more info

Consulting


Pendidikan Indonesia sebuah Renungan

Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?

Hal tersebut mengarah pada perkembangan kognitif anak, tetapi perkembangan kepribadiannya melambat karena disibukkan dengan jadwal dari les yang satu ke les yang lainnya, belum sekolah dari pagi hingga sore atau ada yang sampai malam. coba kita rasakan perasaan anak anda pada saat itu terbatas oleh ruang, makanistik, dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan rumahnya.

Pada dasarnya manusia memiliki semua hal untuk mengembangkan Potensi yang dimiliki, mengutip dari tulisan dari seseorang bahwa kebanyakan hal tersebut hanya mengembangkan satu belahan otak saja, otak kiri manusia yang berhubungan dengan numerik, analisis, dan untuk perilaku, imaginasi dan karakter itu di otak kanan.

banyak orang cerdas disekolah menjadi ahli dibidang kimia, teknik namun belum tentu cerdas secara pribadi, cerdas secara pribadi itu yang kami maksudkan adalah karakter. banyak orang kaya namun jarang yang peduli pada sesama, banyak orang Pintar mengkalkulasi biaya dan biaya namun mereka menimbun harta terjerat korupsi, inilah wajah pendidikan indonesia menciptakan robot-robot yang siap bekerja, terbatas waktu, dan pura-pura bermuka manis,

Perlunya penanaman NILAI Karakter kepada anak, Peserta didik ataupun kepada siapa saja, karena hal tersebut  sangat kurang, moral manusia digadai demi sekotak nasi, sekarung besar atau selembar uang berwarna merah untuk memilih, untuk menaikkan pamor, ataupun sekedar terlihat "baik"

Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik.

 


Back to Top