+62 8527 0717 667 Call for more info

Consulting


“ AKU PENGEN MARAAAAHH!! “

 
Ayah bunda, anak-anak perlu belajar untuk mengekspresikan emosi mereka. Karena, menurut Dr. James Dobson, salah seorang pakar parenting mengatakan bahwa anak yang menekan amarah, nantinya akan menjadi pribadi yang penuh dengan kekerasan, dendam, mudah frustrasi, dan seabreg kemungkinan negatif lainnya.
Contoh kasus yang terdengar beberapa waktu lalu adalah kasus pembunuhan Ade Sara oleh Hafiz, mantan pacarnya, dan pacar barunya Hafiz, Syifa. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mantan pacarnya itu bisa sampai melakukan pembunuhan tersebut? Padahal masalahnya sepele loh..cuman karena menurut Hafitd sejak putus Ade tidak mau dihubungi lagi. Kok bisa yaa??
Di mata psikolog Elly Risman, perilaku keji yang ditunjukkan Hafitd dan pacar barunya merupakan indikasi bahwa mereka tidak mendapatkan kasih sayang dan pola asuh yang tepat dari orangtua sejak kecil. “Kemungkinan pelaku banyak menerima bentakan, sindiran, atau perbandingan dari orangtua saat masih kecil. Akibatnya, pelaku mencari cara menetralkan perasaan buruk yang timbul, dengan berbagai hal yang sebenarnya berdampak negatif bagi dirinya,” kata psikolog Elly Risman pada KOMPAS Health, Minggu (9/3/2014). Tipikal orangtua yang seperti ini biasanya menggunakan pola asuh yang kaku, tidak demokratis. Orangtua hanya ingin anaknya, yang penting kelihatan anteng, tidak rewel, tidak meng’ganggu’nya, singkatnya anak harus selalu menjadi anak yang manis perilakunya, dengan cara paksa bila perlu. Kemudian, biasanya anak-anak ini sampai dewasa pun  tidak tahu bagaimana caranya melampiaskan emosi negatifnya dengan baik dan benar ketika mengalaminya.
Akibat negatif bagi anak karena tidak boleh atau tidak bisa mengungkapkan emosi atau perasaan mereka, antara lain : menjadi depresi, melakukan tindakan kekerasan, merasa tidak aman, salah memilih peer group, hingga akhirnya berujung pada tindakan-tindakan yang negatif bahkan anarkis.
Bila kita ingin anak memiliki emosi yang stabil (baca: karena anak mempelajari –on process- dan bisa mengatasi emosi emosi negatifnya), maka jadikan orangtua sebagai tempat yang aman bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan emosi mereka, apakah itu yang bersifat positif maupun negatif.
Caranya? Beberapa di antaranya yang bisa dicoba adalah sebagai berikut:
- Orangtua adalah role model anak-anaknya. Maka bila orangtua juga bila marah menunjukkan sikap yang negatif, misalnya berteriak, membanting pintu, menyebutkan kata-kata negatif,   maka begitu pula dengan anak yang secara sadar maupun tidak, akan mencontoh perilaku negatif orangtuanya tersebut.
- pahami apa yang sebenarnya mereka inginkan. Jalin selalu komunikasi yang nyaman dengan anak sedari dini. Ayah bunda, please, perkaya diri dengan pengetahuan tentang komunikasi efektif dengan anak, ya J
- kalau anak marah, kondisi sedang berdiri maka ajak duduk, bila sedang duduk maka ajak berbaring, tarik nafas panjang dengan perlahan beberapa kali, bila masih marah maka ajaklah wudhu (usap wajah dan istighfar&/bismillah), bila memungkin untuk mandi malah lebih baik à tuntunan Nabi Saw
- sering bacakan dongeng atau cerita, dimana tema utamanya adalan tentang ‘kendali diri’, contohkan cara marah yang baik pada tokoh utamanya. J
- pillow talk à siapkan kalimat-kalimat pemrograman tentang ekspresi diri yang sesuai dengan anak pada saat menemani anak di kamar menjelang tidur, sambil diusap-usap badan maupun kepalanya (sentuh dengan hati yang penuh kasih sayang), sekalian katakan besarnya kasih sayang Anda terhadapnya. Kalimat yang bisa digunakan misalnya, “Asyrof sayang, mamie sayang banget sama Asyrof, kapan saja kalu Asyrof ingin marah, Asyrof tinggal ngomong dan jelaskan, misal: Aku marah! Karena ... apaa gitu! Sebutin aja.. Dan kalau Asyrof rasanya pingin pukul sesuatu, Asyrof bisa pukul sofa atau bantal J
- Gunakan SET tehnik: Tehnik transfer energi (‘tulari” anak dengan perasaan tenang orangtuanya) dan tehnik menciptakan tombol (tombol perasaan tenang dan nyaman anak sudah dibuat di waktu sebelumnya oleh orangtua).
                Demikian, beberapa tips yang bisa digunakan ayah bunda ketika anak marah. Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba J
 
Salam Super Bahagia
Ika Setya Mahanani, S. Psi, CHt, CNLP
Unit Psikoterapi, Azka Empowering Center


Back to Top